Cerita "menyapih" TV

Thursday, December 17, 2009
Aku dari dulu bukan penikmat TV. Kalau ada ya dilihat, gak ada enggak nyari. Ketambahan di Hawaii jadi benar-benar terpisah dari TV. Karena internet bisa menyajikan secepat televisi. jadi ketika pulang ke Indonesia, aku benar-benar tidak terikat sama sekali dengan TV. Di rumahku, TV nya diletakkan di lantai dua. Aku jarang banget naik ke atas. Bisa jadi dalam lima hari cuman sekali naik ke atas, itupun tidak untuk nonton TV. Jadi jangan tanya soal nama-nama artis atau judul-judul sinetron. I did not have any idea.

Aku prihatin ngelihat anak-anakku yang sangat dekat dengan TV. aktivitasnya lebih sering di depan TV tok. Makan di depan TV, belajar di depan TV, tidur-tiduran sambil lihat TV.

Makanya ketika pindah ke Jogja, aku dan suami memutuskan untuk tidak pakai TV dulu. Selama tiga bulan penuh anakku tidak lihat TV di Jogja. Konsekwensinya external hardisku penuh dengan film-film. Kebanyakan filmnya adalah kartun yang berbahasa enggris tidak ada dubbingnya. Jadi setiap hari anakku bisa nonton film lebih dari 2-3 film.

Sisi positivenya banyak vocabulary baru bahasa Enggris yang masuk otak anakku. Jadi kadang-kadang dia nyapa aku dan Babahnya "hi Guys." hehhee dia juga sering kali bertanya kata-kata baru yang dia dengar. Dan dia sepertinya enjoy-enjoy saja kok.

Ketika aku punya Mbak di rumah, aku mulai berpikir untuk punya TV. Bayangkan kalau anak-anak lagi sekolah terus kerjaan rumah selesai kasian kan kalau tidak ada TV? suruh buka laptop yo gak bisa dan gak mau, ya sudahlah akhirnya TV menghiasi rumah.

Setelah proses menyapih 3 bulan itu, memang pertamanya anakku jadi sueneng banget ada TV, tapi lama-lama dia cuek-cuek aja dengan TV. Paling-paling pagi saja lihat kartun sebelum berangkat sekolah, tidak ngendon di TV terus menerus. Mainan di luar juga masih jalan.

Jadi berpikir untuk melakukan "sapih" TV kapan-kapan lagi
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 2:43 PM, | 11 comments

Kakak Sekolah Diniyah

Wednesday, December 16, 2009
Kemarin sempat pulang ke Banyuwangi. Aslinya cuman mau pulang semalam saja. Tapi karena tiba-tiba ambruk sakit, pulangnya sampe molor lima hari.

Seneng bisa empat malam bisa kruntelan dengan Kakak Kavin. Kangen banget sama my big boy ini. Udah sebulan enggak ketemu. Badannya tambah tinggi. Rambutnya semakin lebat. Tambah hitam tentunya. Protesnya udah semakin kenceng heehhe. Yang jelas tambah puinterrr.

Kakak Kavin sekarang udah kelas 5 SD. Karena sekolah TPQ nya udah wisuda mulai syawal kemarin kakak udah mulai masuk sekolah Diniah. Lucu lihat kakak pake sarung, berbaju taqwa putih, pakek songkok hitam dan bawa kitab hehehe. Katanya awal-awal sekolah tiap mau berangkat sekolah teriak-teriak ke Abah atau Om Endiknya, secara Kakak belum bisa pake sarung sendiri. Alhamdulillah sekarang udah bisa sarungan sendiri. Jadi ingat dulu waktu masih umur 3-5 tahun, sarungnya Kakak aku buatkan yang kayak rok, jadi udah dibentuk dan di atasnya di kasih karet. Makeknya kayak pake rok aja. Pertama-tama dia fine-fine aja pake rok-sarung itu untuk jumatan, eh lama-lama protes juga karena malu dibilangin kang-kang kok cowok pake rok hehhee.

Kakak sekarang lagi semangat-semangatnya sekolah diniah. Pagi dia sekolah SD sampai dhuhur, habis dhuhur berangkat sekolah diniah, pulang asyar. Biasanya habis asyar kakak dolan dengan sepeda motor. Maklum lagi seneng-senengnya motoran. Tiap hari jajannya bensin hehehhe. Habis magrib belajar dengan kang Aziz. Pelajaran yang di pelajari mulai SD, Diniah sampe ngaji Quran. Habis Isya' dia biasanya nonton TV dan tidur. Padat sekali kegiatanya.

Kakak udah bisa memaknai dengan pake tulisan pego jowo. Udah ngerti arti tanda mim untuk mubtada' dan kho' untuk Khobar dan sebagainya. Kan untuk kelas satu harus menyetorkan dua macam hafalan, Juz 'Amma dan Nahwu. Juz 'Amma karena dulu udah hafal di TPQ, jadi sudah langsung setor, sekarang tinggal nadhomannya. Karena semangatnya di kamar mandi sambil Be'ol tetep melafalkan nadhomannya hehehe. Bahkan kemarin sempat gusar karena jumlah nadhomannya 60, dan sebagian teman-temannya udah hafal 40 nadhom sedangkan kakak baru hafal 23 nadhom, makanya di nantang Ibu untuk memberi peraturan.

"Mbok aku dikasih peraturan tho bu'. Nek gak setor dua nadhom dalam sehari gak boleh apa gitu lho." Tantang Kakak ke Abah dan Ibu.

Sepontan Abah dan Ibu nanggapi, "Iyo wes kak, nek gak setor dua nadhom gak oleh sepeda motoran."

wuikkkkkkkkkkkkk

"Lho mbok yang lain aja peraturane, jangan sepeda motor." wkekekekek

Lawong minta peraturan sendiri tapi masih minta nego..

Proud of you Kakak Kavin sayang
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 11:18 PM, | 0 comments