Hallowen

Monday, October 30, 2006



Pesta hantu sebentar lagi datang, tepatnya tanggal 31 October. Di sini semua gedung telah memasang berbagai aksesoris hallowen plus permen dan coklat.

Karena waktu Hallowen bertepatan dengan hari efektif belajar dan tidak ada libur, jadinya EWCPA (nih pengurus East-West Center partisipan) mengadakan pesta Hallowen semalam. Sayang hanya beberapa teman aja yang memakai pakaian lucu (habis ora menakutkan blas hahha). Si Agung dari Jogja malah macak monyet lengkap dengan buntut dari sarung dan wajah yang di plonteng2 dengan bedak putih. Ada Manda yang berpakaian kayak vampire, ada juga yang seperti batman. yang lainnya sih cuman datang dan makan pizza hehhe. Lumayan lah

Puncak acara Hallowen di Hawaii biasanya di Waikiki beach, katanya sih rame banget. Kami berencana ke sana. Kayaknya bawa mukena panjang aja udah bisa jadi costume ghost ya hehehehe.
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 1:58 PM, | 1 comments

Kita Menang

Saturday, October 28, 2006



Hai emang luar biasa banget arek-arek Indonesia. Film Love for Share (Berbagi Suami) yang dibintangi Oleh sederetan artis Top Indonesia seperti Jajang C. Nur, El-Manik, Wingky, Santi, Ria Irawan, Rieke Dyah Pitaloka, Tyo Pakusodewo, dan Nia dinarta sebagai sutradaranya menang di acara Hawaii International Film Festival (HIFF) dan akan diputar ulang pada hari Minggu ini.

Dulu sih saat masih di Indonesia, aku gak pernah care or bangga kalau Indonesia menang ini-itu. Tapi memang benar nasionalisme semakin kuat bila kita sudah jauh. Sekarang ini sueneng banget Indonesia menang. Mendengar orang pernah ke Indonesia aja rasanaya sudah bangga banget, apalagi ini menjadi pemenang. Mungkin orang-orang yang masih tinggal di Indonesia dan belum pernah ngerasakan hidup di luar negeri ini norak habis, karena mungkin feelnya gak dapat kalau di Indonesia.

Kabar ini pertama kami dengar kemarin malam dari Kak Yati (dia ini Librarian di Hamilton Library Univ of Hawaii) yang bertugas mendampingi Nia dan Jajang. Weh, kita seperti berada di atas awan ketika semua orang memberikan selamat atas kesuksesan ini. According to Kak Yati, saat pengumuman itu Nia Dinata ampe nangis lho karena senengnya, karena emang nurut Nia saingan untuk menang di festival ini sangat berat. Tapi lagi-lagi emang only a great movie yang bisa jadi pemenang.

Sebenernya si Nelly (My twins) ngatur untuk ngobrol dengan Nia kemarin malam, cuman Nia mencancelnya karena acara Nia padat banget, dan acara kumpul-kumpul dengan Indonesia students baru bisa dilakukan semalam. Waktu yang sangat tepat, untuk ketemu sekaligus sebagai syukuran atas kemenangan ini.

Acara kumpul-kumpul yang dikemas dengan model potluck party ini diadakan di dorm ku (HALE MANOA), sebenernya kita sudah reservasi untuk makai Hale Halawai, tapi sayang tempat itu di pakai APLP Program jadilah kami pindah ke Lounge lantai 12 pada last minute, Nih tempatnya pas di atas kamarku.

Acaranya seru habis, kita datang dengan berbagai makanan, mulai buah, minuman, lontong sayur, cake wes komplet deh. Nia datang tepat pukul 7:15 PM dengan dijemput Nathalia, anak bontotnya mantan wakil presiden Try Sutrisno yang kerja di Hawaii. Sayang Jajang gak bisa hadir, dia sudah balek pagi harinya. Kita menyambut Nia dengan kalungan Lie (nih nama bunga yang dikalungkan khas Hawaii). Kita makan-makan, foto-foto, ngobrol dan juga diskusi dengan Nia.

Nia sempat bongkar rahasia dia tentang salah satu inspirasinya mengangkat poligami dan hal ini belum pernah dia ungkapkan di public. Menurut Nia Ini adalah pengalaman pribadinya. Dulu (waktu Megawati masih jadi Presiden) setiap hari Selasa sehabis dia nganterkan anaknya ke sekolah dan mau ke kantornya yang jaraknya hanya beberapa kilometer saja pasti macet. Pertama dia cuek aja, tapi lama-lama dia curiga juga, kok cuman hari Selasa aja sih. Ketika dia tanya ke satpam yang ada di sekolah anaknya, dia mendapat jawaban yang lucu plus mengagetkan. Satpam itu bilang, "Biasalah bu', kan setiap hari Selasa jatahnya Pak Hamzah Haz ke Istri yang rumahnya dekat sini." hahahhahhaahhahah. Oalah jadi ini terkait dengan jatah pembagian waktu tho????

Nia dalam membuat film ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Researchnya aja 8 bulan, nulis skripnya i bulan, pra shoting (nih semacam training buat pemain) 3 bulan, shotingnya 3 minggu, editingnya 3 bulan. Biaya yang dibutuhkan Nia hanya berkepala 3 dengan deretan nol-nol yang gak terlalu banyak. Nia mengakui jumlah itu bagi orang Indonesia sangat besar, tapi nurut ukuran luar negeri murah sekali. Di satu sisi kita bangga bisa membuat film bagus dengan biaya murah, tapi di sisi lain ini bentuk keterbelakangan kita, karena kemurahana pembuatan film ini lebih pada karena emang tenaga di Indonesia dibayar murah, ya mulai kru film, hingga pemain. Indonesia memang tidak ada standar untuk pekerja film.

Ada pertanyaan menarik yang dilontarkan Mbak Wiwik, dia menanyakan perbedaan terjemahan dari judul aslinya Berbagi Suami ke Love for Share. Nurut Nia, dia sendiri yang memilih judul itu. Dengan pertimbangan karena memang semua tokohnya rela berbagi suami dengan orang lain berdasarkan Love. Pertimbangan lain, yang ini tentu gak serius-serius banget, Nia suka lagu Love for Sell, jadi diplesetkan dikit jadi Love for Share hehhehe. Emang deh kalau orang yang sudah feelnya ke seni, sedikit aja udah kena art feelingnya hehehe.

Nia saat ini sedang nulis skrip tentang Narkoba dan juga tentang immigrasi gelap ke US. Cuman kata Nia, ya kita lihat aja nanti, mana yang lebih dulu jadi.

Nia juga sempat nengok kamarku sebentar saat dia numpang ke rest room di unitku. Syukur banget kamarku saat itu sedang rapi hahahahha, kalian kan tahu piye kamarku biasanya. Ih jadi malu.

Acara ditutup dengan foto bersama dan penyerahan kartu ucapan selamat buat Nia yang telah ditandatangani semua Indonesian students yang hadir saat itu.

VIVA INDONESIA
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 10:57 PM, | 1 comments

Indonesian Movie

Friday, October 27, 2006


Huss...

Semalam film BERBAGI SUAMI (love For Share) diputar di Hawaii International Film Festival (HIFF). Nia Dinarta (Sutradara) dan Jajang C. Nur (Pemain) juga datang. Wah bangga banget ketika melihat antusias penonton yang membludak, ampe ada yang rela duduk di lantai dan ada juga yang sangat kecewa karena gak kebagian tiket. Beruntunglah kami Indonesian Students mendapat tiket gratis, walaupun harus lobi sana-sini hehehe, pokoknya kalau urusan gratisan emang orang Indonesia punya deh.

Aku sempat khawatir tidak bisa ngelihat, walaupun tiket sudah ada di tangan, tapi hari itu juga aku harus take GRE test. Temen-temen Indonesia yang satu apartemen denganku akan berangkat jam 3:30/4:00 PM. Ada indonesianist, namanya Anthony dan Lance yang menyediakan van untuk ngangkut kami. Padahal GRE test baru akan dimulai jam 12:30 dan memakan waktu four hours. Wes aku gelisah banget, dan terus memutar otak, gimana caranya bisa tetep nonton, apalagi aku gak ngerti tempatnya plus jalur bus untuk ke sana. Beruntunglah saat aku konfirmasikan ke tempat test, aku bisa mulai test lebih awal yakni jam 11:45. dan aku avoid semua tawaran waktu untuk istirahat. Akhirnya aku bisa menyelesaikan test pada jam 3 tepat. Huss... jangan tanya scorenya ya hehehe, kalian tentu bisa membayangkan sendiri berapa score yang aku dapat kalau 90% soal yang diberikan adalah Mathematika hahhaha. Tapi keseluruhan score belum aku terima, karena mereka butuh waktu untuk menganalisis writingku. Dengan berlari-lari aku pulang ke Dorm, berharap aku belum ketinggalan rombongan. Fortunately, mereka belum ngumpul. Akhirnya aku masih bisa balek ke kamar dan sholat.

Di bioskop aku duduk dekat dua profesor hebat. Satu Prof. Barbara Andaya yang sangat indonesia buanget, lawong semalam aja dia pake baju stelan bordir. Dia bilang kalau kainnya beli di Jawa, tapi menjahitnya di Medan. dia ini ahli dalam bidang political science,sangat lancar ngomong bahasa Indonesia. Dia juga orang yang selalu support Indonesian students. Satu lagi prof Michael Feener. Dia adalah profesor dari NUS (Singapura) dan ahli dalam bidang Ushul fiqh (please jangan tanya agamanya, karena aku juga gak ngerti agamanya), daerah penelitiannya Asia tenggara dan Timur Tengah. Feener ini sangat lihai ngomong bahasa Arab (plus faseh tenan) dan Indonesia. Ini adalah pertemuan keduaku dengan keduanya, sebelumnya aku ketemu mereka saat menghadiri diskusi yang diberikan Feener tentang literatur di Indonesia particularly tafsirnya HB. Jassin dan Hamka. Sempat kaget juga nih mendengar paparan dia, walaupun backgroundku Tafsir Hadis aku gak sampai mendetail mengetahui tentang HB yassin dan juga Hamka. Wes kalah pool dengan Feener. Ketika aku ngobrol dengan Feener dan aku mulai menceritakan background my family, pesantren dan juga rencana penelitianku, dia sangat tertarik. Bahkan (saat pertama kami ketemu) dia langsung memberikan kartu namanya dan bilang keep in touch with me, uhuiiii sueneng banget. His respect totally different with Indonesian profesor yang selalu sok dibutuhkan dan jual mahal hahaha. Aku sudah email dia. Dan semalam waktu ketemu, dia sangat mengharapkan ketika aku nanti pulang ke Indonesia bisa mampir di Singapura dulu, untuk melanjutkan diskusi kami. Barbara juga gak kalah nice nya. Dia bahkan telah mengabariku kalau next year ada profesor yang intens di women's studies dan seorang Indonesianist juga akan datang ke UH. weleh.... senengnya.

Oya kembali ke cerita movie. Sehabis pemutaran film, acara dilanjutkan dengan diskusi dengan Nia dan Jajang, wah banyak banget audience yang bertanya, dan hampir semuanya mengatakan Good. Karena di film ini mengkombinasikan antara culture Moslem, China,also ajaran Islam dan Katolik. Sehabis acara selesai, of course kami foto-fotoan, wes aku ddengan Jajang dan Nia sudah bak temen akrab (hahhahaha Norak pool). dan rencannaya malam ini Permias juga akan mengundang mereka untuk ngobrol bersama di dorm kami.

Setelah semuanya pulang, aku, Neneng, Ali, Herman, dan beberapa Indonesianist (Anthony, Lance, grek, Paul, Sumi) makan malam bersama di restoral China, sumpeh enak banget masakannya, dan aku hanya perlu bantingan $ 5, karena Greg sudah mencover hampir semua bill yang harus di bayar. Pas pulangnya hanya tinggal satu mobil aja yang bisa nganter kami ke dorm dan itu mobil pick up, jadilah aku dan beberapa teman naik di pick up terbuka, walaupun dingin tapi tetep seneng bisa menikmati Hawaii di malam pukul 11:00.

Oke deh itu dulu, lain waktu aku sambung.
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 4:11 AM, | 1 comments

Lebaran nda...

Wednesday, October 25, 2006

Hari Raya Idul Fitri benar-benar datang dengan sejuta harapan untuk menjadi lebih baik.

Sebenernya aku pengen cerita sekarang tentang suasana Idul Fitri di Hawaii, tapi berhubung ceritanya terlalu panjang dan sekarang ini tugas kuliahku yang never ending itu telah duduk manis minta disentuh.

By the way, Idul Fitri kemarin hanya ada satu kata "TANGISAN DARAH", dan aku mau ngucapkan thanks banget untuk orang ndeso yang telah menemaniku menangis. Mungkin lebih tepatnya bukan menemaniku sih, tapi kita sama-sama menangis he..he...

Selamat Lebaran ya
No Ketupat...
No Opor Ayam..
No Silaturrahmi...
Tapi tetap ada PERMINTAAN MAAF

NB: Tuh fotoku ketika mau berangkat sholat Ied dengan mata sembab hehhehe
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 9:55 AM, | 0 comments

SELAMAT IDUL FITRI

Sunday, October 22, 2006
SELAMAT IDUL FITRI

MOHON MAAF DALAM LAHIR DAN BATHIN

ATAS SEGALA DOSA DAN KHILAF

YANG TERANTUK DAN TERSENGAJA


SEMOGA BARAKAH RAMADHAN TERUS MENYERTAI KITA DI MASA MENDATANG AMIN
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 5:13 PM, | 0 comments

Keluargaku

Thursday, October 19, 2006


Untuk pertama kali aku chat dengan Abah dan Ibuku by YM, dan ini juga the first time aku ngelihat wajah orang tuaku setelah 4 bulan tinggal di Hawaii.

Duh perasaan yang meledak-ledak, anatara kangen, terharu. Terlebih tadi bukan hanya ortuku aja, tapi juga Zulfi, Endik, Hilda (adek-adekku) dan Kakak (anakku yang pertama).

Bisa berkelluh kesah dengan abah, bisa curhat-curhat dengan mereka, bisa nunjukkan isi kamarku. wes semuanya tertumpah. Aku gak bisa menahan diri, Ibukupun juga tidak dapat mengontrol diri, kami nangis bersama. Tentu tidak mudah bagiku dan juga bagi keluargaku lebaran tidak bersama.

Tapi ini adalah salah satu jalan untuk masa depanku dan masa depan mereka juga, jadi I MUST SURMOUNT IT.

Bau lebaran sudah semakin dekat, tadipun keluargaku juga sedang menyiapkan buka bersama di luar, sambil cari sandal katanya. Nah yang satu ini emang menjadi tradisi di lingkungan kami (dan aku pikir di seluruh Indonesia juga) kalau lebaran pake baju baru hehhehe. Saat anakku tanya, "Mama sudah beli baju baru berapa?" aku melongo bebrapa saat yang kemudian langsung ngakak-ngakak, gimana mau mikir sandal, cari feelnya lebaran aja sulit, lagian tugas juga never ending, lagian lage emang mau kemana pake baju baru segala hehhee.

BAgaimanapun, aku selalu berharap barakah Ramadhan dan lebaran bisa tetap datang di Hawaii, Amin
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 4:12 PM, | 0 comments

Ramadhan di Hawaii

Wednesday, October 18, 2006

Oya, aku baru ingat kalau cerita puasaku belum aku tulis disini.

Ramadhan tinggal seminggu lagi, perasaan berat dan rasa kangen yang dalam selalu menyertai buka puasa dan sahurku. Seorang temen dari Mesir bilang, kalau menjalani ibadah semakin berat maka semakin banyak pula pahalanya, aku berharap itu benar adanya.

Untuk masak buat sahur aja, aku harus pindah ke dapur sebelah. Ada peraturan kalau semua fasilitas dapur kecuali kulkas dan microwave akan mati secara otomatis pada jam 11 malam sampe 7 pagi. Pada bulan Ramadhan ini disediakan satu dapur yang hidup. Setiap lantai ada dua dapur namanya Diamond Head and Ewa. Kebetulan dapurku di Diamond Head dan yang hidup yang Ewa, jadilah setiap sahur harus angkut-angkut barang ke dapur Ewa. Satu lantaiku ada 9 orang Moslem, 5 dari Indonesia, 1 China dan 2 India dan 1 mesir. Padahal satu lantaiku ada sekitar 130 orang hehhe. 9 Orang ini selalu sahur bersama, terkadang teman-teman dari lantai lain juga ikut bergabung dengan kita.

Untuk buka puasa biasanya sendiri-sendiri dan di Dapur rame karena jam makan malam. Aku sering buka puasa dengan Mas Bambang (nih sudah kayak bapak bagi kami) dan Mas Ari. Biasanya saya buka setelah teraweh.

Beberapa ahri lalu, tepatnya malam Jumat, mas Bambang punya usul untuk membuat sambel terasi buat sahur, wah langsung saja kami setujui. Terasi yang aku bawa dari rumah hampir bisa dibilang tak tersentuh, karena aku takut kalau memasak baunya mengganggu temen-temen lain. Nah kalau waktu sahurkan engak ada orang lain, kebanyakan Indonesia, jadi gak masalah. Jadilah mas Bambang yang setiap hari bangunkan kami dengan telfon meminta acara sahur dimajukan dari jam 4 ke jam setengah empat. Karena kami harus merebus lalapan-lalapannya.

Kami juga sedang mendesain untuk membuat tempe. Ceritanya saat waktu aku ngobrol dengan mas Bambang, aku bilang kalau kangen pool dengan tempe, tapi mau beli kok yo mahal tenan. Akhirnya mas Bambang iseng-iseng cari di internet cara membuat tempe. Beruntunglah ketemu, dan ternyata yang punya uji dapur itu adalah orang Indonesia yang ada di Myanmar. Di Web site itu lengkap juga alamat-alamat untuk mendapat ragi di luar negeri, sepeerti di Belanda, Toronto, US dan sebagainya. Rencananya kami akan pesan ragi untuk tempe dari mainland lewat internet dan bayarnya pakai credit card. Lucu ya, wong tuku ragi tempe aja pake credit card. Ragi itu akan dikirimkan. Wes kami yang di Hale Manoa telah siap untuk jadi juragan tempe hahhaa.

Ngomong-ngomong soal masakan, kami sering kali uji coba, wes pokoknya masak dan campur bumbu macam-macam, ya namanya "ngawur" jadi rasanya kadang pas, tapi sering gak karoan. Kami sering ngakak2 bareng kalau sudah ada temen dari negara lain tanya nama masakan kami, lawong kami aja gak tahu masak apa, kok malah ditanya nama. Pokonya kami telah menelurkan banyak masakan, bisa jadi pulang dari Hawaii kami buka restoran hahaha. Eh, seminggu yang lalu, temenku si Dwiko yang sedang kuliah di Belanda memposting alamat website yang isinya masakan-masakan Indonesia. Wiihhh sueneng buanget deh, dapat resep masakan, dan malamnya langsung aku coba, tapi tetep aja rasanya gak pas, la gimana lagi wong gak ada daun salam dan kencurnya,ah yang penting tetep oke untuk dimakan.

Kami warga Moslem Indonesia yang tinggal di Hale Manoa setiap Jumat malam sabtu teraweh bersama dengan memboking ruang musik dilanatai 12. Duh nikamatnya teraweh bersama. Kami hanya bisa melakukan teraweh bersama setiap weekend, karena kalau hari-hari biasa sangat repot, apalagi kelas aja sering berahir pukul 8 malam. Kayak aku setiap hari Selasa, kuliah berahir jam 8, jadilah buka di kelas, untung dosenku sangat memahami konsep puasa, dia pernah tinggal di Jeddah Arab Saudi selama setahun setengah. Oya, kami teraweh dengan suara yang sebisa mungkin tidak berisik, karena memang di student hausing kami ada peraturan untuk tidak melakukan kegiatan keagamaan secara bersama-sama. Jadilah mau jawab "amin: setelah Fatihah aja harus sepelan mungkin. Padahal maunya jawabnya yang kenceng, biar dapat feelnya seperti di rumah hehehhe, dasar kayak anak kecil heheehhe.

Seminggu yang lalu, kelas fall term 1 in language training ku berahir, dan akan dilanjutkan tanggal 25 untuk term 2. Nah memang di US ini ada tradisi Potluck Party (semua member yang ikut party harus membawa makanan/minuman) selepas kelas usai. Kemarinpun begitu, 4 kelasku semuanya party. Aku hanya ndomblong dan pura-pura baca buku dan dengerin musik, padahal di hati Istigfar terus, apalagi saat itu panas banget dan es lemon dengan manisnya ada di meja. Duh berat banget menjalankan puasa di Hawaii.

Banyak temen-temen negar lain yang tanya kok biasa sih kami kuat puasa. bagi mereka gak makan aja bisa dimengerti, tapi kalau gak minum?? mereka gak habis pikir. Apalagi tanpa gum hahahha, kan orang US kemana-mana ngemut gum. Tapi disitu nikmatnya, kalau ada orang yang merasa sangat pengen tahu bagaimana kami menjalankan puasa duh rasane bangga sekali jadi orang Moslem yang kuat.

Oya, aku percaya setiap negara dengan madzhab yang beda-beda mempengaruhi bagaimana orang menyikapi puasa. Nih true story, waktu itu jariku digigit tawon, otomatis bengkak. Aku langsung ke kamr Julius (temenku dari Palangkaraya) untuk minta minyak tawon. Nah di kamar Julius ini ada Shakel temenku dari India yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan Julius. Ketika dia tanya minyak apa yang aku pakai, aku langsung sodorkan minyak itu ke dekatnya. Dia langsung menghindar dengan bilang, "Ninik I'm fasting". yo aku melongo dong. Lawong jelas2 aku juga tahu dia puasa, akupun juga puasa, Tapi apa hubungannya puasa dengan menghindari minyak. Ternyata dia bilang kalau dia gak boleh mencium bau-bauan yang strong selama puasa. Aku kaget, aku coba jelaskan kalau ini hanya bau aja bukan untuk dimakan, tapi tetep aja dia ngotot. Yo weslah, oya si India ini juga sangat strick dengan makanan. Dia pernah nyoba sambel trasi yang aku buat dengan Mas Bambang, saat ditanya apa bumbu sambal itu, aku lupa menyebutkan trasinya. Nah saat dia nyoba dan merasakan ada yang aneh, dia marah2. "I cannot eat it"...Why? ternyata nurut pendapat dia, udang yang merupakan bahan dasar trasi adalah makruh karena udang itu tidak sepenuhnya ikan. Oalah...kok yo enek-enek wae.

Oke deh, sampai disini dulu udah capek banget. besuk aku lanjutin lagi. Oya foto itu saat kami bareng-bareng buat bakwan dan perkedel di dapur kami

Ninik
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 6:11 PM, | 0 comments

Ahirnya Semua Normal

Monday, October 16, 2006
Memang benar kata orang, stelah kejadian menyeramkan seperti gempa kemarin, barulah mengalir cerita dari kejadian-kejadian lucu.

Ada temanku yang cerita kalau saat semua orang panik dan berkumpul di lantai bawah, ada seorang cewek china yang minta seprai ke petugas front desk, setelah dapat seprainya dia lari2 di tengah rintik hujan ke balik bunga-bunga di taman, tentu semua orang heran, mau ngapain nih orang. Eh ternyata dia ngambilkan seprai untuk suaminya yang saat turun hanya memakai kolor yang gak layak dipandang banyak orang hahahhahaha.

YAng lebih gila lagi temenku Nelly (nih banyak orang yang salah manggil, karena wajah dan bodinya mirip aku), dia sekamar dengan Sumi dari Malaysia. Memang tinggal mereka bukan di Hale Manoa yang 12 lantai, tapi di Hale Kuahini yang hanya 4 lantai dan tempatnya terpisah dengan Hale Manoa. Ternyata si Nelly dan her roommatenya ini malah gak beranjak dari tempat tidur, mereka hanya bangun dan merasakan gempa sebentar untuk kemudian tidur lage. Ih dasar.

Setelah gempa, Listrik mati, semua orang pada lari menyerbu supermarket untuk aksi borong roti. Untungnya kami yang Moslem sudah sahur, jadi gak sibuk cari makan. Di Hale Manoa hanya beberpa lampu saja yang menyala dengan menggunakan tenaga genset. termasuk yang nyala adalah kamar mandi, walaupun air panasnya gak berfungsi. Gara-gara listrik di kamar mandi on, temen-temen berlomba-lomba mengambil listrik dari kamar mandi dengan menarik kabel panjang dan menancapkannya di cop-copan kamar mandi. Salah satu yang melakukan itu adalah aku hehehe.

Sebenernya hari itu kami warge LEntera (perkumpulan Moslem Indonesia di Hawaii) mau mengadakan buka bersama dan pengajian di apartemennya Ibu Roesman, tapi ditunggu sampai jam 12 siang listrik tidak menyala, akhirnya acara dibatalkan.

Memang benar persaudaraan semakin terasa kental bila setelah musibah. Gara-gara gempa, lampu mati dan acara Lentera dibatalkan, ada beberapa teman dari Indonesia yang berinisiatif mengadakan buka bersama dengan makan seadanya. Wes pokoknya prinsip makan gak makan yang penting kumpul benar-benar kita pegang. Memang benar kalau orang Indonesian lebih bisa survive, karena lebih sering mengalami keadaan susah. Di tengah orang-orang yang bingung mau makan apa karena dapur mati, kita malah bisa bikin banyak masakan mulai gule, kare, kolak, telur dsb. Semua orang yang ngelihat kita sibuk mau party pada bingung, lho listrik mati kok kalian pada buat party sih he2. Mereka tentu tidak pernah membayangkan kalau rice cooker bisa dipakai macam-macam hahaha. Jadi kita semua membuat masakan dengan menarik listrik dari kamar mandi dan masaknya memakai rice cooker.Oke kan???

Alhamdulillah setelah listrik tidak berfungsi selama 12 jam, akhirnya jam 7 malam (saat kita masih menikmati buka puasa) listrik hidup. Untuk hal ini aku sangat mengakui kalau tanggap bencananya HAwaii sangat cepat, gak kayak di Jogja, yang baru nyala setelah 2 hari setelah gempa. Karena listrik hidup, Spontan semua menjerit, wah jadi ingat di pondok he2. Cuman ternyata sebagian dari kami gak menyambut antusias hidupnya lampu ini, karena lampu hidup berarti tidak ada alasan bagi kami untuk tidak submit tugas pada esok harinya, wes gak ada excuse lagi dong hahhha.

Karena setelah buka, makanan yang kami buat masih tersisa, akhirnya kita berjanji untuk sahur bersama di lantai 12. Kebetulan Ari yang malam itu buka di Masjid mendapat berkah banyak makanan sisa dari Masjid, karena saat itu hanya sedikit jama'ah yang datang. JAdilah kita banyak banget makanan. Aku dan teh Neneng juga membuat nasi goreng dan telur Balado sisa buka puasa. Saat sahur itu bukan lagi Indonesian party tapi jadi International Student Party, karena ada Hosam (Mesir), Shakel (India), Tursun dan Khodijah (China) yang ikut gabung makan dengan kami. Wes sueneng buanget, serasa sudah lebaran.

Memang ibadah akan terasa indah di tengah kesulitan untuk menjalankannya dan rasa Nasionalis akan tambah kuat ketika kita jauh dari negara.

Ninik
Pagi sehari setelah Gempa
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 10:45 PM, | 2 comments

Hawaii dan Gempa

Aduh pagi ini semua orang di Hawaii sibuk dalam ketakutan eartquake. Aku baru tidur setengah jam setelah begadang semalaman dan sholat subuh, tiba-tiba tubuhku dibangunkan oleh guncangan hebat. Dengan kesadaran yang belum penuh aku mencoba merasionalisasikan apa yang sebenernya terjadi. Satu detik kemudian aku baru sadar kalu sedang terjadi gempa. Dengan menyambar jilbab yang tergantung dipinggir pintu aku naik ke lantai atas. Aku semakin bingung ketika aku lihat semua orang lari ke unitku. Oh aku baru sadar kalau tanga darurat berada di unitku. Dalama keadaan seperti ini tentu kami tidak mungkin memakai elevator. Dengan perasaan yang mencekam kami turun berdesak-desakan dari lantai 12. Rombongan orang ini semakin banyak ketika di tiap lantai ada tambahan orang. Setelah melewati ratusan tangga akhirnya nyampek juga kami dilantai bawah yang sudah mulai dipenuhi orang.

Hujan masih terus mengguyur sejak semalam. Wajah-wajah yang ketakutan dan lusush karena kebanyakan baru bangun tidur. Maklum hari ini minggu dan cuaca dingin banget membuat orang malas bangun cepat. Kami semua berkumpul di front desk atau ruang tamu dormitory. Semapt geli juga melihat temen2 turun dengan pakaian tidur , bahakan ada yang tidka berpakaian lengkap. Kayak si Ari ini, yang hanya memakai sarung tanpa baju. Cerita demi cerita terus mengalir dari temen-temen, ada yang lari dengan menyelamatkan laptopnya, ada yang menyelamatkan USB yang berisi disertasi or thesisnya ada yang lupa semuanya termasuk lupa membawa kunci kamr. Ada yang sangat lucu, Mas Anshari dari Gresik, saat gempa dia sedang baca buku di reading room yang letaknya di lanatai dasar, dia adalah orang pertama yang lari ke luar. Dia lari dengan membawa buku yang dibacanya. Nih jadi olok2an temen2, karena semua orang sibuk dengan laptop or usbnya eh dia hanya membawa satu buku hehhehe.

JArak setengah jam, radio di font desk dihidupkan dan kami semua mendakat untuk mendengarkan berita. Dari sinilah kami tahu kalau gempa yang terjadi 2 kali ini berkekuatan 6.5 SR. Dan pusat gempanya di Big Island, penyiarnya menegaskan berkali-kali kalau NO TSUNAMI. Disinilah aku salutnya US, begitu cepatnya informasinya.

Oya, saat kami semua berkumpul di front desk lampu mati dan hingga aku menulis ini lampu belum hidup, untungnya batere HP ku penuh jadi bisa tak buat dengarkan radio. Karena semua orang ngumpul di front desk, penjaga front desk mengingatkan kami untuk go outside karena dia berkali2 menerima telfon tapi tidak mendengar suara penelepon karena kami berisik.

Setelah merasa aman, sekitar 1 jam setelah gempa aku memutuskan kembali ke kamar. Karena elevator belum work, akhirnya aku harus menyusuri tangga demi tangga ke kamarku yang lantai 12. ADUHHHHH capekkkk,

Oya, aku melihat temen-temen dari Jogja dan Aceh lebih sigab, mereka keluar dengan sudah membawa ransel yang isinya mulai dompet, passport, dan beberpa baju. Mungkin mereka lebih sensitive merasakan gempa daripada aku.

Oke deh. Doakan semuanya selamat
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 1:39 AM, | 2 comments

Jilbabkoe

Sunday, October 15, 2006
Assalamu'alaikum

Dengan kondisi yang sangat belum nyaman ini, akhirnya aku sudah bisa melewati satu bulan lebih tinggal di Honolulu Hawaii. Waktu yang masih cukup pendek untuk melakukan adaptasi, tapi waktu yang cukup untuk memberikan gambaran, bahwa aku menjadi makhluk yang unik dan luar biasa dengan jilbab yang menempel di kepalaku.

Pada minggu-minggu pertama aku sempat mengambil kesimpulan, bahwa orang US atau paling tidak orang yang hidup di US sudah memiliki perpandangan luas, dan tidak menilai orang dari sisi penampilan. Tapi lambat laun Jilbab yang menjadi hal unik di lingkungan yang semuanya serba minim ini (terlebih sekarang musim summer) menarik juga untuk terus diusik.

Teman-teman yang tinggal satu dormitory mungkin tidak akan mempermasalahkan atau paling tidak sudah tidak asing lagi dengan jilbabku, karena beberapa kawan dari Indonesia sebelumnya juga ada yang memakai hal yang sama.

Keusilan mulai terjadi ketika aku masuk di HELP (Hawaii Education Language Program) yang studentnya kebanyakan dari orang-orang Asia (Korea, Jepang, Vietnam, Thailand and China). Pertama datang, mereka hanya memandang heran, mungkin yang ada dipikiran mereka "mahluk dari mana nih?." Tapi lama-lama mereka berani bertanya, mulai dari nama benda yang menutupi rambutku, alasanku memakainya, kondisiku saat memakainya apakah panas ato tidak hingga kecurigaan kalau aku punya masalah dengan rambut. Pelan dan mantap aku selalu berusaha menjelaskannya. Namun tak urung semua itu menambah penasaran orang-orang. Bahkan ada yang terang-terangan memintakku (sometimes) untuk membuka jilbabku. Dalam setiap penjelasan yang aku berikan tentang jilbab, aku selalu hubungkan dengan Islam, walaupun di luar perkiraanku ada teman dari Vietnam yang tidak tahu what is Islam?. Aku tidak berani menyimpulkan, apakah memang Islam benar-benar tidak populer atau tidak disinggung di Vietnam, atau mungkin temanku ini yang terlalu kuper. Ketika aku menyebut Islam, dia membutuhkan waktu untuk membuka dictionary electricnya dan memintaku mengucapkan huruf perhuruf dari kata Islam. Instructurku pun, si cakep Jake, juga tidak ketinggalan memberi komentar tentang jilbabku. Dia menegaskan kalau belum pernah punya kenalan yang memakai jilbab, walaupun dia sudah beberapa kali melihat orang berjilbab waktu di Bali. Dan dia sangat supraise ketika menyadari bahwa orang berjilbab memiliki pandangan, keaktifan yang sama dengan yang lain. Mungkin dia melihat aku tidak pernah punya problem di kelas.

Terlepas dari kegundahan dan beratnya mempertahankan jilbab, dari jilbab ini pulalah aku belajar banyak hal. Paling tidak penampilanku selalu mencuri perhatian dari orang-orang di sekitarku dan aku bisa improve bahasaku karena aku meski menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Dan yang terahir, mereka sangat mengagumiku, sebab di tengah cuaca Hawaii yang panas, aku adalah orang yang paling kuat menahannya dengan tetap memakai jilbab dan baju tertutup, "you are a strong woman", itu yang diucapkan temenku dari Korea.

By the way, doakan aku ya agar bisa tetap konsisten mempertahankan jilbab ini. Amin.
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 8:27 PM, | 1 comments

Hari-hari pertama di Hawaii



Aku barusan kirim satu tugas via email ke dosenku. HAri RAbu submit lagi. Aku kemarin ke Waikiki Beach, This place is one of the famous beachs in Hawai'i. Aku kesana dengan Sakil, Hosam, Roland and Rose, yang ngantarkan Anshari (Hasan Anshari dari Indonesia). Untuk mencapai pantai aku harus naik bis yang bayar $ 2, sekitar 20 menit. Wah kebetulan pas hari minggu, jadi rame banget, cuman aku pengen muntah aja lihat pantat orang berseliweran hanya pakek CD he2. DI Waikiki waktu itu juga ada pertunjukan dance from filiphino. Sebenernya kalau boleh jujur, kuta lebih bagus dari pada Waikiki, pantainya Waikiki hanya kecil dan dipinggir pantai penuh dengan toko plus hotel, wes koyok di Kuta lah. tapi Waikiki ini menang dalam kebersihan dan penataan ruangan. AKu pikir bukan hanya Waikiki tapi hampir semua tempat di Hawai'i ini bersih. Kami sempat foto-fotoan di Waikiki pake kameranya anshari. Paling tidak foto ini akan jadi bukti bahwa aku bener-bener sudah di Hawai'i he2.

PAda hari kedua setelah nyampek (eh aku melewati tanggal 26 Juni 2 kali lho, pertama di Narita Tokyo dan kedua di Hawai) aku dan temen-temen fellow yang lain buka bank account. Kami buka reekening di American saving bank, bank ini satu-satunya yang ada di dalam kampus dan semua fellow dari pertama juga buka banknya di sini. Di sini ada 2 istilah rekening, cheking account and saving account. kalau cheking account hanya bisa untuk transaksi dan saving account tidak bisa untuk transaksi hanya untuk nyimpen. Pengennya aku langsung buka dua-duanya tapi ternyata kalau buka saving account harus bayar $ 300, padahal kalau cheking account hanya $ 100. Wah seteelah dipikir-pikir dengan kebutuhan yang ada akhirnya kami semua hanya membuka cheking account. sometimes lah buka saving. Saat daftar itu kita langsung dapat buku chek dan ATM nya baru akan kita dapat minggu ini.

Di sini udaranya kayak Indonesia, cuman anginnya kenceng banget, mungkin karena dekat laut, banyak pepohonan dan disamping dormku pas ada bukitnya. Di sini sering hujan, cuman hujannya beda dengan di Indonesia, hujannya lembut banget tanpa suara, gak gembrodokan seperti di Blokagung Banyuwangi. dan yang lucu kalau mau hujan atau berhenti hujan tanpa tanda-tanda sebelumnya seperti mendung atau semacamnya. Cuaca yang seperti ini membuat kulit kering, seeelumnya aku gak sadar kalau kulitku jadi kering (tahu sendirilah aku emang gak care ke kecantikan kulit he2), aku baru sadar setelah Migra bilang. Jadilah aku harus rajin pake handbody.

Semua yang tinggal di dorm ini masak, setiap satu lantai ada 2 kitchen, kata orang-orang sih kalau sudah masuk kelas, kitchen rame banget, karena sekarang sedang lliburan summer jadi agak sepi. Nurut kebiasaan di sini mahasiswa seminggu masaknya 2-3 kali aja, sekalian masak yang banyak, entar kalau mau makan tinggal manasin di microwave aja, karena kalau tiap hari masak gak ada waktu. Beberapa hari ini aku masak dengan Anshari, dia fellow cohort 3, dia juga yang sering jadi guide kami. Anshari ini ngambil P.hd Sociology. Ketika ngobrol-ngbrol dengan dia banyak hal suprais kami temukan. ternyata kami sama-sama dari Jatim dia dari Manyar Gresik, dia itu ternyata pula dulu Mts dan MA di Suci gresik, dia juga masih saudara dengan Istrinya Kyai Masbuhin he2, jadilah kami heboh, bahkan Anshari ini termasuk orang yang diminta Kyai Masbuhin untuk mendesain universitas di Suci, dia sempat ngajar 2 semester di Inkafa. Wes jadinya kita dekat, karena punya background yang hampir sama. Dia yang nganterin aku jalan-jalan ke rumah kak Sophie dengan naik sepeda pancal, dia pula yang nganterin aku ngelihat-lihat kampus. kembali ke cerita dapur, kemarin aku masak pecel (kan aku sudah bawa sambel pecel made in Mbok) jadi tinggal ngerebus sayuran. Eh tanpa aku duga beberapa temen Indonesia histeris lihat aku masak pecel, jadilah kami makan bareng dengan pecel, sambel gorengn kentang dan telur dadar, wes serasa di rumah, sayang gak ada tempenya. Temen2 banyak yang heran kok aku bisa lolos bawa banyak makanan dari Indonesia, sampe mereka melongo saat aku bilang aku bawa trasi juga he2. Biasanya aku baru makan nasi waktu lunch dan dinner. Breakfast aku makan roti bakar pake jam/margarin plus energent dan susu. Oya bakaran roti disini disediakan lho. Beberapa hari ini aku emang slalu mengkonsumsi susu. karena aku gak mau jatuh sakit karena perbedaan cuaca. Aku beli susu cair dalam kotak yang langsung bisa diminum, of couse fat free he2.

Shoping bahan-bahan masak, kita punya banyak pilihan, cuman yang paling murah di China Town, tapi tempatnya jauh, harus naik bus dulu. di China town ini seperti pecinan, semua yang ada orang china, dan disinilah aku baru lihat gelandangan, wes khas asia deh. Di china town aku menemukan satu toko yang menjual makanan Indonesia, tapi yang punya bukan orang Indonesia. Di toko ini ada semua produk Indofood, mulai indomie sampai sambal bajak, ada juga laos, asem dsb. Aku histeris lihat tempe, tapi sayang harganya $ 2,95 almost $ 3. Oh God. Di dekat dorm ada safe way, loung drug and star market.ini tempatnya sekitar setengah kilo-1 km dari dorm kalu mau ke sana harus jalan. Oya di sini kemana-mana harus jalan, karena terlalu banyak jalan hingga kakiku biru, sampe sekarang biru-birunya belum hilang. Bek Suriah... I miss your hand please touch me he2. Pertama belanja sih aku masih sangat melek Rupiah, dalam artian semua harga aku kurskan ke rupiah, jadilah aku selalu gak jadi beli sesuatu, lho bayangkan 3 pisang harganya more than $ 2.oh...tapi lama2, aku pikir bakalan mati kelaparan kalau aku selalu mikir rupiah. KAlau aku hitung2 mungkin satu minggu untuk kebutuhan dapur aku spend money sekitar $ 30-40. jadi kemungkinan sebulan habis $ 150-170.

Di sini semua air bisa langsung di minum, dari kran kamar mandi or kran dapurpun oke aja langsung disruput. Tapi sebenernya ada kran sendiri yang bisa kita gunakan untuk ngambil air minum. Di sini semua kran provide hot and cold water. Jadi setiap kali aku mandi pakek air hangat gak perlu teriak-teriak dullu ke fitri untuk minta air hangat he2. Hilda, penak tho neng Hawaii?. Di setiap gedung pasti ada kran-kran yang di situ kita bisa langsung minum. Di dorm juga ada ice mechine, jadi kita bisa ngambil es batu kecil-kecil secara bebas.

Sesaat setelah nnyampek Hawaii, aku tanya arah kiblat ke Anshari dan dia menunjukkan. Cuman yang lucu hingga kini belum ada satu orangpun yang bisa menjawab arah, maksudnya mana arah barat, timur dsb he2. sebenernya gampang aja sih tinggal lihat matahari.

Secara keseluruhan building di Hawai'i tidak terlalu berbeda dengan UGM, bahkan kata Ari dan Migra yang lulusan Jogja, Hawai ini Jogja masa depan. Tapi secara system sangat jauh banget. di mana--mana akses untuk difabel sangat tersedia baik, dan semua serba komputer, hingga kuncipun systemnya computer. Kita mendapat satu kunci untuk mengggunakan akses computer di east-west center office, kunci ini gak kayak di Indonesia tapi kunci dari lempengan plastik hitam yang hargannya perbuah kata Kim $ 10, kalau mau menggunakan kunci ini tinggal menghadapkan kunci itu ke kotak hitam di depan pintu, langsung deh pintu terbuka, lawong kunci untuk kamar aja juga pake card. Gedung untuk jurusanku dekat dengan dormku, fortunately, library juga dekat dekat dorm. Di sini banyak librarynya, ada yang allow to bring food and drink tapi ada juga yang dilarang. Gile referensi tentang asia Buuuuuaaanyyaaak banget, buku-buku bahasa Indonesiapun gak kalah banyak. UHM ini juga punya fasillitas olahraga yang sangat lengkap, swimming pool, basket, soccer, gym wes semuanya free. cuman sayang sekarang sedang off karena summer.

Bus disini kayak busway di Jakarta (eh aku belum pernah naik bus way lho he2), semua ber AC, systemnyapun beda. Pertama kita harus nyiapkan 2 bill yakni uang kertas $ 1 jadi harus bayar $ 2. kita naik langsung memasukkan uang itu ke mesin dan kita dapat tiket. Tiket itu masanya 2 jam, kalau tiket itu belum expire kamu bisa memakai tiket itu kemanapun kamu pergi dengan bus manapun, enakkan. Yang pasti kita tidak bisa naik dan turun bus disembaranag tempat.harus di tempat pemberhentian. Yang lucu, kemarin aku naik bus bareng pasangan muda-mudi, karena dia bukan orang Hawai, dia banyak tanya ke sopir bus, eh tahu tidak, mesin di busnya secara otomatis bilang "stop request" he2. Mesin bus ini juga akan bilang di mana saat itu bus akan berhenti.

Selama aku di Hawai, aku belum pernah dengar bunyi klakson mobil. Semua driver di sini rasa toleransi dan menghormatinya sangat tinggi. Kalau kita jalan kaki or naiik sepeda dan mau menyebrang, kita harus berhenti dulu dilampu merah dan memencet tombol yang ada tiang, kita boleh menyebrang setelah ada tanda gambar orang berjalan, kalau gambarnya masih tangan berwarna merah berarti kita masih harus menunggu. Kalau di jalan-jalan yang tidak ada lampu merahnya, disetiap perempatan pasti ada tanda zebra cross, yang kita bisa menyebrang bila jalan sepi, dan herannya lagi driver di sini bahkan sopir bus akan memberikan kesempatan kita untuk jalan dulu sebelum mereka lewat. Setiap mobil yang melewati tikungan, pertigaan or perempatan yang gak ada lampu merahnya pasti akan berhenti sebentar untuk tengok kanan-kiri apakah ada kendaraan lain, kalau ada,, biasanya mereka akan memeberikan kesempatan untuk kendaraan itu untuk lewat. Wes pokoknya sopan-sopan, ora koyok di Indonesia, di depan rumah aja klaksonya banter-banteran apalagi di Jakarta. Di Hawai harga mobil murah banget, banyak student yang punya mobil. Kemarin aku lihat mobil bagus, seperti land cruiser dan sejenisnya hanya di jual $ 1500 itu setara dengan 15 juta. murahkan? tapi sekali kena pelanggaran, dendanya lebih mahal daripada harga mobil.

Dormku ini milik east west center. lokasinya berdampingan dengan kantor EWC, hanya di pisahkan taman. Secara keseluruhan situasinya menarik, dari dorm ini kita bisa melihat kota hawai dan juga gunung. orang-orangnya juga sangat ramah, kita bisa dapat kenalan baru dimanapun kita ketemu, di kitchen, elevator, di kamar mandi, dimanapun deh dan mereka akan sangat respek ke kita dan mereka gak bakalan menertawakan bahasa kita yang masih belebotan. Kebanyakan penghuni dorm Hale Manoa ini (sepanjang sepengetahuanku sekarang ini) banyak orang asia, jepanng, china, korea, Timor timur , Indonesia, philipina, india. Mereka akan menyapa kita setiap kali ketemu, walaupun terkadang kita / mereka lupa nama, paling tidak masih ingat wajah.

Untuk nyuci baju, jangan pernah bayangkan akan heboh nyuci dan menjemurnya. Di setiap lanatai telah tersedia 2 washing mechine and 2 drying mechine plus satu iron. dua hari yang lalu pengalaman pertamaku nyuci di dorm and also the first experince use washing and drying mechine. Walaupun sebelumnya sudah dberi pengarahan oleh Anshari tetep aja bingung, lawong biasanya yang nyucikan sofhah he2. Pertama yang kita lakukan memasukkan semua cucian kita ke mesin dan memberinya detergent, terus kita tutup dan kita memasukkan 4 recehan quarter ke mesin (ini berarti sama dengan $ 1) baru deh mesinnya berjalan, aku bingung kok setiap kali tak buka masih ada air dan detergentnya padahal sudah setengah jam lebih. akhirnya aku cari orang untuk tanya, ketemulah Pat, dia fellow angkatan lama dari thailand. kemudian dia lihat ke washing mechine, eh pas dia lihat semuanya sudah selesai, cuciannya tinggal ngangkat, jadi Pat bingung what problem ? he2. Aku sih ketawa aja. Setelah itu aku pindah cucian itu ke drying mechine. mesin ini harganya quarter untuk 15 menit, kata orang2 sih 3 quarter cukup untuk mengeringkan baju. aku ikutin aja saran mereka, aku masukin 3 quarter, jadi total waktu yang dibuthkan untuk mengeringkan bajuku 45 menit. karena terlalu lama aku tinggal aja makan dulu. setelah 45 menit aku ambil bajuku. untuk baju2 yang tipis tidak perlu di setrika karena cukup panas, bisa langsung dilipat, tapi ada beberapa baju yang masih butuh disetrika, cuman karena sudah masuk waktu magrib, aku gak langsung nyetrika. Oh Tuhan, aku lupa mencampurkan bajuku yang berwarna dengan kaos putih...kaos putihku jadi berwarna biru, kayak diwenter. untunglah itu kaos murah yang aku beli di Pasar Baru Jakarta harganya Rp 50 dapat 3, jadi gak terlalu nyesel.
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 7:15 PM, | 0 comments

Cerita perjalananku



Sebenernya aku sudah datang di Hawaii 4 bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Juni 2006. Cuman baru sekarang sempat cerita-cerita di blog, buka sempat deh, lebih tepatnya baru bisa buat blog hehhehehe.

Oya, ini nih cerita perjalanku dari Jakarta ke Hawaii.

Akhirnya hari yang paling mendebarkanpun datang juga. Malam ini aku akan berangkat ke Hawai.berbagai perasaan dating silih berganti, tegang, nervous, bingung dan yang paling besar adalah berat. YAch berat meninggalkan semuanya. Terlebih dalam keadaan hati dan pikiranku yang kacau.
Saat itu pukul 19.00 WIB aku keluar dari hotel IStana Ratu ???Wisma Daerah??? untuk berangkat ke bandara. Dengan diantarkan suami, kavin dan zulfi aku menyusuri jalanan malam Jakarta yang kala itu sudah mulai terbebas dari kemacetan. Ari dan Amin dengan taksi sendiri, sedangkan Migra dan Julius berada ditaksi yang berbeda pula. KAmi turun di gate 3, tidak begitu lama mbak Mira datang dan langsung memberikan briefing singkat, lalu kami masuk untuk chek ini. DI tempat pemeriksaan barang sempat terjadi accident, HP ku jatuh di bawah troli..deg-degan juga.
Kami sempat menunggu setengah jam untuk chek ini karena counternya belum buka. Kami berempat belum pernah ke Luar Negeri, kecuali yulius, itupun sudah lama, jadi tetap aja grogi. Waktu chek in, semua kopor temen-temen lolos, karena tidak ada yang sampai 23 kg. Yang terahir ditimbang koperku, swear deg-degan, karena dilihat secara kasat mata aja punyaku yang paling besar. Untuk kopor yang sedang sudah lolos, beratnya cuman 21,5 kg, tapi kopor yang terahir 23,4 kg..duh.. tapi syukurlah mereka mengijinkan. Setelah itu kami membayar fiscal seharga satu juta lalu keluar lagi untuk nemui Mbak Mira (staf IIEF) dan keluargaku. Eh ternyata barang bawaanku yang paling banyak lho. 2 kopor besar untuk di bagasi, 1 kopor kecil, tas ransel dan tas pinggang untuk di cabin. Itupuun masih ada satu tas plastic yang tak titpkan di Ari he2.
Pukul 22.40 kami masuk ruang boarding. Berbeda dengan temen-teman yang sangat nyantai berangkat karena tidak diantarkan keluarga, aku berat sekali, terlebih seperempat jam sebelumnya Kavin nangis, untunglah saat aku berangkat dia sudah tertidur dipangkuanku. Tapi tetap saja berat, pergi dengan diiringi tangis Mas Aslam dan adekku. Inilah yang paling aku takutkan ketika berangkat, aku pernah cerita ke teman kalau nanti aku berngakat tidak pengen diantar oleh keluarga karena pasti akan buerat.
Tepat pukul 24.00 pesawat garuda yang kutumpangi take off. Ini pengalaman pertamaku naik pesawat besar. Aku baru menyadari ternyata begitu banyak orang Indonesia yang berduit, coba bayangkan pesawat yang begitu besar ini penuh semua orang yang hendak ke Jepang atau sekedar transit seperti kami.Sebelum pesawat berangkat meninggalkan Soekarno Hatta kami diberi jus jeruk dlam botol kecil. Setelah itu kita dibagikan selimut dan headset, sempat bingung juga mana radio/tapenya, ternyata semua sudah tersedia dipegangan tangan, kita bisa memilih lagu-lagu yang kita sukai atau nonton film yang diputar di TV di depan kita. Oya sebelum take Off aku dan ari sempat minum antimo, wes kalo kayak gini kelihatan marjinalnya. Setengah jam setelah terbang kami semua tertidur. Oya pesawat ini juga dilengkapi dengan TV besar, dari TV tersebut kita bisa melihat film dan TV ini dilengkapi juga informasi mengenai waktu di Indonesia dan waktu ditempat tujuan, kecepatan pesawat, ketinggian pesawat, ukuran suhu udara hingga waktu tempuh perjalanan.
Jakarta-Narita (Jepang) butuh waktu 6.40 jam terbang. Saat terlelap tidur, kami dikejutkan oleh gunjangan pesawat yang cukup keras. Cuaca saat itu buruk sekali. Dalam suasana tegang, aku terus membaca doa, untungnya keadaan ini tidak berlangsung lama. Saat jam ditanganku yang masih menggunakan WIB menunjukkan pukul 3.00 dini hari, tapi di luar jendela matahari sudah sangat terik. Duh sebenernya masih sangat ngantuk, tapi pramugari sudah hilir mudik memberikan minuman dan sapu tangan basah untuk mengelap wajah (biar gak kelihatan belekan). Tepat pukul 4 WIB/6 pagi waktu Jepangkita sudah breakfast. Untuk kali ini lidahku kembali tidak bias dikompromikan, tetap aja aku memilih nasi daripada roti he2. Pukul 6.45 WIB/8.45 Jepang kami mendarat di Narita. Wuih bandaranya gede banget. Di Narita semua pekerja termasuk pekerja kasar dan juga sopir bus semmuanya berkulit putih dan bermata sipit he2. Dari sinilah pertama kali semua serba speak English.
Ada kejadian lucu, saat kami menunggu bus yang akan mengantar kami ke terminal 1 tempat pesawat North West Airland yang akan kami tumpangi ke Honolulu, kami ketemu bule, dia Tanya tujuan kami, weh kita semua semangat menjawab, itung-itung praktek bahasa eh gak tahunya bule cakep ini jawab “ Saya sudah lama tinggal di Manado” dubrak!!!ngakaklah kami semua.
Di terminal 1 kami menunggu seharian, karena pesawat yang akan ke Honolulu baru akan berangkat jam 20.30 dan bisa chek in jam 13.00. huh bayangkan???apalagi kita tidak boleh keluar bandara dan tidak disediakan hotel, jadilah gelandangan. Waktu menginjakkan kaki di ruang tunggu amin dan ari langsung kegirangan melihat smoking room, dasar smoker2.
Saat menulis cerita ini, tiba2 alarm HP ku bunyi mengingatkanku kalau hari ini pas Hari Ulang Tahun Pernikahanku ke-8 oh God.
Sambil terus menorehkan tinta ini, telingaku tidak lepas dari USB untuk dengerin lagu-lagunya Katon, Ada band, Padi, Opick, yach paling tidak dengan lagu-lagu ini aku merasa di rumah. Terlebih foto anak-anakku dan keluargaku sudah tak persiapkan di tas pinggang, sehingga memudahkanku untuk melihat dan tersenyum membayangkan mereka. Oya saat di pesawat aku sempat bermimpi Mirza manggil-manggil aku, apalagi beberapa jam sebelum berangkat dia telfon sambil nangis karena lihat fotoku, duh jadi nelangsa.
Di Narita ini HP ku tidak bisa dipakai, padahal roaming internationalnya sudah tak aktifkan, tapi tetap aja gak conec.Ih menyebalkan. Pasti suami dan keluargakku nunggu-nunggu smsku. Setelah 4 jam kita berlima kayak orang jalanan, ahirnya amin dan ari menemukan ruang tunggu yang cukup nyaman, dengan udara yang sejuk plus kursi-kursi panjang yang bias untuk tidur, kursi ini bentuknya seperti kursi untuk periksa gigi, jadi sandarannya dapat diatur.
Pukul 12.30 aku dan ari cari tempat dan carta agar bisa sholat. Kami gak mau dhuhur kami bolonng, terlebih subuhnya tadi sudah sholat di Makkah he2 (tahukan maksudnya..?). Karena tidak ada tempat yang lebih baik, akhirnya kami memilih sholat di pojok ruangan tunggu. Yang jadi masalah ketika wudlu. Aku sempat bingung gimana caranya untuk cuci kaki, tahu sendirilah toiletnya semua kering dan serba tissue, satu-satunya yang ada airnya hanya wastafel, jadilah kakiku tak angkat ke wastafel. Untungnya aku termasuk orang yang gak anti pakek celana, gimana jadinya kalau aku pake rok, pasti gak bisa ngangkat kaki dong. Saat mau sholatpun kami bingung ke arah mana kami harus menghadap tidak satu orangpun yang tahu arah kiblat, jadinya dengan keyakinan penuh kami sholat menghadap arah yang kami yakini sebagai arah kiblat.
Sebenernya fasililtas di bandara ini cukup lengkap, ada tempat untuk akses internet yang tarifnya setiap 10 menit 100 yen. Atau telfon koin 100 yen untuk 2 menit. Temenku yulius sempat telfon ke rumahnya untuk menanyakan apakah istrinya sudah melahirkan ato belum. Yulius berani telfon karena dia beruntung menemukan uang koin 100 yen kalau bukan karena uang temuan aku gak yakin dia mau telfon. Sebenernya pengen juga akses internet ato telfon cuman eman duit dolarku. Aku hanya bawa uang 50 ribu yang lainnya dolar. Mungkin karena baru pertama kali lihat dolar/pegang dolar jadinya kalau mau gunakan pasti dihitung rupiah dasar ndeso tenan.
Pukul 13.28 kami mulai antri untuk chek ini, ternyata di sini lebih ketat dari pada di Jakarta . Kami mulai kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan para perempuan2 cantik ini (eh kebanyakan petugasnya cewek lho) bukan karena kualitas pertanyaannya tapi logatnya yang aneh.
Eh aku baru menyadari kalau sejak pagi belum melihat seorangpun yang pake jilbab, pantesan aku dari tadi ngerasa jadi orang yang paling cantik.hik..hik???
Temenku Amin sudah boarding pass dia menuju ke Detroit terus ke Vermont, kasihan sendirian dia. Setelah chek in kami menghabiskn waktu untuk tidur lumayan lah. Saat waktu menunjukkan pukul 17.30 Ari ngajak kami untuk mandi, kaget juga, di mana kita bisa mandi, lawong semuanya serba tissue. Dengan sangat meyakinkan ari menunjukkan tempatnya. Semangat 45 pengen lihat air dan juga membersihkan badan membawa kami mengikuti langkah Ari dengan tidak sabar. Tapi sesampai di tempat shower ternyata Ari lebih kaget dari pada aku saat melihat kalu penggunaan showeh harus membayar $ 5 tiap sepuluh menit Mampuslah???.Dengan gigit jari akhirnya aku masuk toilet untuk sekedar ganti baju dan membersihkan badan dengan tissue basah.
Pertahanku untuk tidak menukar dolarku akhirnya runtuh juga saat melihat migra menukar dolarnya dengan yen untuk telfon. Akhirnya aku tukar juga $ 2, $ 1 sama dengan 113 yen. Uang koin 100 yen inilah yang tak pakai untuk telfon ke rumah. Saat pertama telfon itu yang ngangkat Ibu, waktu dengar suaraku ibu langsung jerit, cuman ternyata 100 yen hanya cukup untuk telfon sebentar banget, belum selesai ngomong telfon sudah terputus. Coin ditanganku tinggal 100 yen aku coba telf ke HP suamiku, tapi gak nyambung. AKhirnya 1 coin itu tak buat telfon rumah lagi, kali ini yang ngangkat abah.
Pukul 19.30 kami mulai antri untuk boarding, kami baris diurutan yang lumayan depan, of couse di line economy class he2. Aku berada di urutan ketiga setelah Ari an Julius, dibelakngku Migra. Dua orang sebelumku lancer-lancar aja, tapi pas giliranku… oh Tuhan aku tertahan di security dan harus rela diperiksa, untunglah aku termasuk orang yang sabar dan penurut he2, jadi aku hanya diam aja ketika sepatu, jaket, jam tanganku suruh nyopot, bahkan aku membantu petugas cewek ini membuka tas ransel, tas pinggang dan juga kopor kecilku. Petugas ini terlihat heran ketika ranselku dibuka dan ternyata isinya cuman makanan. Dia ampe bilang “Oh I am hungry” sambil ketawa. Akhirnya selesai juga pemeriksaan itu, dan aku bisa lolos, bahkan petugas ini bilang You are a nice person, mungkin karena selama diperiksa aku kooperatif dan selalu menebar senyum indahku he2. Oya selama di Jepang ini kami tidak membeli makanan dan minuman, kami sudah mengantisipasinya dengan membawa banyak roti dan Aqua dari Jakarta .
Sekarang aku terbang ke Honolulu. Ikut penerbangan pesawat US ini berbeda dengan di Indonesia . Kami tidak menjumpai pramugari-pramuga yang cantik, muda, segar dan slalu terlihat jaim. Di sini pramugari sudah berumur (paling tidak sudah ga’ ABG la) dan mereka terlihat santai plus cuek, sesama petugas biasa aja ngobrol ketawa-ketiwi sambil jalan diantara penumpang. Yang paling berbeda yakni dari segi pembagian kerja. Kalau di Indonesia semua urusan untuk melayani penumpang pasti diserahkan ke pramugari. Tapi di NWA ini pramugara yang bertubuh besar-besar itu juga sangat sigap melayani penumpang. Luar biasa….Bener kata Aidil, kalau di pesawat jangan takut kelaparan. Perjalanan dari Narita ke Honolulu memakan waktu 6.30. Seperti yang sudah dipesenkan suamiku jangan banyak makan selama perjalanan, takut bermasalah dengan BAB. Sebenernya kami sudah mulai bermasalah dengan toilet sejak di Narita, piye jal serba tissue…
Satu setengah jam perjalanan kami masih bisa enjoy, tapi ketika pesawat mulai bergoyang kena cuaca jelek, mulai deh kami minum antimo he2. Kami tidak bisa menikmati tidur lama karena tepat pukul 6.30 (waktu Hawaii ) or 24.00 WIB pramugari sudah mulai membagikan sarapan. Yach akhirnya sambil ngantuk-ngantuk kami makan juga dengan nasi yang ditaburi keju, ayam, salad dan juga roti.
Tepat pukul 8.30 atau 01.30 WIB kami mendarat di Hawaii, Udara yang hangat menyambut kami, sesaat setelah roda pesawat menyentuh landasan kami berempat saling salaman untuk mengucapkan “Selamat Datang Perjuangan”
Di bandara kami sudah disambut bus untuk diantar ke tempat pemeriksaan immigrasi. Wih tempatnya luas banget. Saat ini summer jadi banyak banget turis yang berlibur, terutama orang-orang bermata sipit.
Setelah antri beberapa saat datanglah giliranku, alhamdulillah tanpa maslaah. Aku dan migra lolos, tapi ari dan Julius harus kena intrograsi lebih lanjut di ruangan khusus. Karena aku dan Migra tidak boleh menunggu di situ ahirnya aku turun di tempat pengambilan bagasi. Oya disini HP ku on. seneng banget dapat sms dari rumah dan bisa kirim balek.
Setelah menemukan kopor-kopor kami, aku dan migra mulai mencari dan mengumpulkan kopor ari dan Julius. Kami tidak bisa membawa kopor2 mereka keluar sebab tanda buktinya dipegang masing2. Sampai disini bukan berarti sudah terbebas dari masalah, sebab ternyata setelah masuk pemeriksaan barang, petugas menemukan hal mencurigakan di kopor hitamku dan aku diminta membukanya. Setelah dibuka dan diobrak-abrik mereka hanya menemukan bumbu-bumbu instant Indofood dan peralatan wanita yach…akhirnya lolos juga.
Aku dan Migra keluar bandara dan langsung disambut Kim Small, Hasan Anshari dan temen dari China. Setelah mengobrol sebentar akhirnya ARi dan Julius keluar juga. Beberapa saat kawan-kawan dari China datang dan kami berangkat ke dorm. Untuk tahun ini ada 11 fellow IFP seluruh dunia yang study di Hawaii. 4 dari Indonesia , China : Nimabuchi ( Tibet ), Zang Ming, Kadeer Tursun. Philiphina: Roland and Rosalina. Mesir : Hosam dan India Sakila (eh ini cowok lho).

NB: Ih itu fotoku di Narita Jepang
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 6:02 PM, | 2 comments

Hawaii

Friday, October 13, 2006
Akhirnya nyampek juga di Hawaii setelah perjuangan panjang dan tangisan darah selama 6 bulan di PPB UI

Selamat datang Hawaii
Selamat datang harapan
Selamat datang perjuangan

Ninik
 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 6:14 AM, | 0 comments