NEVER LATE TO STUDY

Monday, February 18, 2008
Beberapa minggu lalu ada seorang ibu yang selanjutnya aku tahu namanya Ibu Dini menghubungiku via seorang teman. Ibu Dini berasal dari Indonesia, kemudian tahun '62 mendapat beasiswa dari East West Center Hawaii untuk melanjutkan program Masternya di University of Hawaii at Manoa. Selanjutnya Ibu Dini menikah dengan Jewish pada tahun '64, dan sejak saat itu menetap di Hawaii.

Ibu yang masih kelihatan energik diusianya yang sudah berkepala tujuh, aslinya dari Kediri Jawa Timur dan keluarganya adalah Muslim. Tapi sejak kecil Ibu yang sangat ramah ini tidak pernah diperkenalkan dengan pendidikan agama. Sekarang Ibu dari dua putra yang kesemuanya penganut Kristen dan Nenek dari empat orang cucu mendapat hidayah. Beliau ingin di akhir masa tuanya untuk kembali mempelajari agama Islam. Sejak beberapa bulan, beliau setiap Sabtu ke Masjid, tapi sayang beliau tidak menemukan orang yang tepat untuk mengajarinya agama, at least Shalat. Akhirnya lewat pelantaraan seorang teman, Ibu Dini menghubungiku, dan kami mengatur waktu untuk bertemu. Ternyata yang ingin belajar agama bukan hanya Ibu Dini, tapi juga beberapa Ibu tua dari Indonesia dan Malaysia yang mereka telah puluhan tahun menetap di Hawaii.

Tadi, Minggu 17 Pebruari, kami sepakat untuk belajar bersama di rumah salah seorang Ibu Indonesia. Aku sempat Blank juga, apa yang harus aku ajarkan, karena aku belum tahu betul, sampe di mana pengetahuan agama mereka. Jadilah aku hanya menyiapkan Jadwal Sholat yang aku print dari www.islamicfinder.com, satu kertas yang berisi Sahadat, Fatehah dan Surah Ihlas dengan tulisan Arab dan Indonesia, dan aku juga membawa whiteboard kecil yang baru kemarin aku beli di bookstore.

Terharu, bahagia melihat tiga orang Ibu-Ibu tua yang mempunya semangat yang luar biasa untuk belajar. Kami belajar mulai jam 12:30-1:30 dan kemudian dilanjutin dengan sholat Dhuhur berjama'ah. Pertama yang aku perkenalkan adalah tentang 5 Rukun Islam. Masyaallh, aku baru sadar ternyata Ibu Dini ini memang belum bisa mengucapkan Syahadat. Tapi sangat beruntung, karena aku sudah menuliskan Syahadat dalam dua huruf:latin dan Arab. Jadi Ibu Dini bisa membaca tulisan latinnya. Aku juga menerangkan tentang sholat, tentang berwudhu dan sebagainya.

Ibu Dini sempat bertanya padaku, "Mbak, katanya keynya sholat itu adalah di fatehah, tapi saya belum hapal, apa yang harus saya baca?" Dengan mencoba menandaskan bahwa Islam agama yang sangat mudah, aku bilang kalau Ibu Dini bisa mengganti semua bacaan sholat dengan membaca BISMILLAH. Allah Maha tahu, jadi jangan pernah takut. Alhamdulillah mendengar penjelasanku Ibu Dini puas.

Saat aku mengambil wudhu, Ibu Dini memperhatikanku. Tapi dia sendiri tidak bisa melakukan wudhu karena habis belajar bersama ini beliau mau pergi ke tempat lain dengan suaminya, dan dia sudah pake Makeup. Ya tak apalah, untuk pertama kalinya. Tapi aku sudah meminta beliau agar minggu depan bisa ikut wudhu. Saat sholat, dua ibu yang lainnya melakukan sholat dengan duduk di kursi, karena mereka punya masalah dengan kaki yang baru dioperasi. Tapi Ibu Dini follow sholat persis disampingku. Dia tidak mau sholat dibelakangku, karena dia mau tahu gimana gerakan sholatku.

Overal, I am proud of them. Di tengah semua keterbatasan, mereka masih punya semangat tinggi untuk belajar agama. Lalu bagaimana dengan kita???

Labels:

 
posted by Nihayatul (Ninik) Wafiroh at 10:50 AM, |

3 Comments:

semangatnya patut dicontoh tuh ... moga2 kita bisa jadi spt juga ya ..
  At 9:05 AM Blogger isma said:
jadi inget bhaksos nico... atau kamu buka pesantren cabang hawaii aja gimana?
Alhamdulilah, ibu2 itu masih dibukakan hatinya...juga buat Ninik yg mau berbagi ilmu..semoga kalian semua diberikan pahal yang setimpal..amin